Review Mortal Engine (2018) Gambaran Bumi Setelah Masa Kehancuran

Glamovie.com – Review Mortal Engine – Sobat sekalian…!! Di bioskop-bioskop Indonesia, Mortal Engine (2018) telah tayang sejak 5 Desember. Seru Sob…!! Buat kamu sekalian yang suka film-film fiksi diluar nalar kemanusiaan.

Hokeh, kita cekidot saja ke movie review Mortal Engines versi Glamovie.

Sinopsis
Mortal Engine menggambarkan masa ribuan tahun yang akan datang, dimana komputer dan teknologi seluler sudah menjadi masa lalu… ketika tanah sudah tidak bisa lagi ditinggali oleh manusia gegara sebuah perang besar, …yang bahkan lebih besar dari perang nuklir.

Yup… ada satu jenis bom yang dimasa itu disebut sebagai ‘Medusa’… yaitu bom yang memiliki daya ledak lebih dasyat ketimbang nuklir.

Medusa menembak seperti laser, …pecah di awal namun kemudian menyatu di titik pusat, berkumpul dan akhirnya meledak menjadi sebuah badai ledakan yang luar biasa. Akibatnya tanah-tanah dipenuhi racun, …tidak ada lagi tanah yang bisa digunakan untuk membangun sebuah rumah.

Jika pun ada orang yang tinggal di daratan terbuka, maka dia tidak akan mampu bertahan hidup lantaran sesama manusia disana akan saling membunuh satu sama lain, …demi memperebutkan teknologi peninggalan masa lalu (masa sekarang), dan juga kebutuhan pokok lainnya, termasuk makanan.

Pada akhirnya manusia membangun kota di atas mesin… Yup… Sebuah mesin seperti kendaraan yang di atasnya berisi berbagai bangunan, selayaknya sebuah kota. Yang artinya kota-kota tersebut bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya di bumi ini.

Banyak kota-kota yang terbangun, namun yang terbesar adalah kota London.

Tapi sebenarnya tidak seluruh dunia hancur oleh bom Medusa di masa lalu… Masih ada suatu wilayah dimana manusia bisa membangun hidup di daratan terbuka.

Adalah Thaddeus Valentine (Hugo Weaving), seorang arkeolog dari London yang memiliki ambisi untuk menguasai dunia dan merebut tanah terbuka tersebut. Dia pun membangun ulang senjata Medusa demi menaklukkan kota daratan yang dilindungi oleh benteng super besar dan tinggi dengan kekuatan perlindungan meriam-meriam yang super besar pula.

Thaddeus merampas inti Medusa dari Pandora Shaw dan membunuhnya demi ambisi pribadi.

Hester Shaw (Hera Hilmar), putri Pandora Shaw pun terbakar dendam dan memburu Thaddeus.

Hester melarikan diri dari Thaddeus ketika usianya baru 8 tahun. Dia ditolong dan dibesarkan oleh Shrike, manusia Frankenstein yang setengah robot, …tanpa naluri dan ingatan masa lalu.

Hester melarikan diri dari Shrike karena tidak ingin dirinya di ubah menjadi mahluk setengah robot seperti Shirk.

***

Review
Secara visual, ini film luar biasa… Gambaran besarnya kota London di atas mesin benar-benar diluar nalar… benar-benar fantasi luar biasa yang sama sekali tidak ada gambarannya di alam nyata sekarang ini.

Juga visualisasi benteng pertahanan kota daratan yang tampak seperti benteng yang belum pernah ada di belahan dunia mana pun selama ini. Besar, tinggi dan kuat…

Namun selaiknya sebuah film, tentu tidak ada yang sempurna.

Tom Natsworthy (Robert Sheehan) yang tertarik pada sejarah dan teknologi, tampak tidak memberikan peran penting dalam peperangan di akhir film.

Anna Fang (Jihae) yang perannya semacam komandan pasukan pemberontak pun tidak tampak berwibawa ketika memimpin serangan ke London.

Bahkan adegan perangnya itu sendiri pun tidak dramatis.

Satu-satunya adegan dramatis ialah justru ketika Shrike membebaskan Hester karena melihat cinta di mata Hester kepada Tom. Hati Shrike pun luluh setelah bayangan masa lalu kembali tersirat di fikirannya, …bayangan ketika dirinya masih menjadi manusia normal bersama anaknya. (Glamovie – Review Mortal Engine (2018)).

Tinggalkan Balasan