Review dan Sinopsis Film India Manikarnika the Queen of Jhansi (2019)

Glamovie.com – Sobat sekalian…!! Sebetulnya Gla ini bukanlah penggemar film India. Tapi Gla suka film kolosal. Karena itulah Gla tertarik untuk menonton hingga akhirnya membuat tulisan review dan sinopsis film India Manikarnika ini.

Review Film Manikarnika

Manikarnika: The Queen of Jhansi merupakan salah satu karya sineas Kangana Ranaut. Dan seperti pada umunnya film-film India, film ini pun berdurasi cukup panjang, yakni 2 jam 20 menit.

Pemeran utamanya ialah sutradaranya sendiri, yaitu Kangana Ranaut. Juga didampingi oleh pemeran-pemeran lain, misale Atul Kurkani, Jisshu Sengupta, dan Suresh Oberoi.

Naskahnya disusun oleh Prasoon Joshi…

Film ini dilatar belakangi atas sejarah nyata Ratu Lakshmibai… Seorang wanita pemberani yang mengobarkan semangat perang melawan pendudukan Inggris di India.

Manikarnika telah tayang di bioskop-bioskop di Indonesia sejak Januari 2019.

Koreografi laga film Manikarnika diarahkan oleh Nick Powell. Seorang yang juga menjadi penata laga pada film Braveheart, Hamlet, The Mummy, dan Gladiator.

Selain Manikarnika, kisah Ratu Lakshmibai juga pernah dua kali dibuat dalam film layar lebar, dua serial televisi, dan satu film Hollywood yang bertajuk Swords and Sceptres (2017).

Sutradara
. Radha Krishna Jagarlamudi
. Kangana Ranaut

Penulis Naskah
. Prasoon Joshi (Dialog)

Skenario & Cerita
. K.V.Vijayendra Prasad

Pemeran
. Kangana Ranaut
. Atul Kulkarni
. Jisshu Sengupta
. Vaibhav Tatwawaadi
. Mohammed Zeeshan Ayyub
. Danny Dezongpa
. Ankita Lokhande

Narasi
. Amitabh Bachchan

Rumah Produksi
. Kairos Kontent Studios

Rilis
. 25 Januari 2019

Rating
. 3,5/5

manikarnika the queen of jhansi 2019

Sinopsis Film Manikarnika the Queen of Jhansi

Kisah Manikarnika dibuka dengan narasi oleh Amitabh Bachchan dengan suara khasnya yang berwibawa…

Awal film menceritakan tentang kelahiran Manikarnika di Vanarashi. Dia kemudian tumbuh dewasa dengan membawa sebuah anugerah yang tidak biasa bagi seorang wanita, yaitu keahlian bermain pedang dan panah.

Dalam perjalanannya memasuki usia dewasa, Manu dijodohkan dengan Raja Jhansi, Ganghadar Rao. Dan setelah menjadi ratu, namanya pun berganti menjadi Lakshmibhai.

Sejak hari perkawinannya dengan Raja, Manu (panggian lain Manikarnika) telah menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi bangsa Inggris. Dia tidak mau menundukkan wajah pada Kompeni, meski suaminya sendiri yang seorang raja bahkan menunduk.

Kisah berlanjut dengan intrik dan tragedi tewasnya Pangeran dan Raja Jhansi. Mereka berdua wafat lantaran racun yang diberikan oleh kerabat kerajaan yang berkhianat.

Ratu Laksmibhai menolak tradisi pengasingan atas dirinya yang telah menjadi janda. Tidak hanya menolak, ia bahkan menduduki tahta kerajaan Jhansi dan memulai perlawanan terhadap Kompeni Inggris.

Film review Manikarnika the Queen of Jhansi

Sobat sekalian… Secara keseluruhan, film ini memiliki banyak kekurangan jika mengacu pada selera Gla. Pertama dari beberapa visual efeknya… Masih ada tampak kasar sehingga kurang memanjakan mata.

Kemudian dari dramanya, kurang dramatis. Kurang bisa membawa perasaan penonton ke dalam film. Kurang menyentuh dan tidak membuat penonton menangis seperti pada umumnya film India.

Kekurangan yang ketiga adalah lebaynya peran orang Inggris yang berbicara bahasa Hindi. Padahal kalau menurut Gla sih, kenapa tidak pakai bahasa Inggris saja?? Kan patut tuh… Peran India bicara bahasa Hindi, dan peran Kompeni bicara bahasa Inggris.

Kekurangan selanjutnya ialah tidak diungkapnya pelaku peracunan.

Bagi orang yang hobi nonton dan faham seluk-beluk film, Gla kira akan dapat dengan mudah mengetahui siapa pelaku yang memberi racun. Tapi bagi yang belum terbiasa menonton film-film semacam ini, bisa jadi dia kebingunan… Kenapa Pangeran meninggal secara mendadak?? Kemudian kenapa Raja sakit-sakitan hingga wafat juga?? Apa penyebabnya??

Begitu kira-kira Sob…

Kemudian ada satu hal lagi yang Gla sayangkan… Tapi pun Gla tidak bisa mengatakan bahwa itu salah. Karena ini kan film sejarah ya Sob… Jadi jika pun ada adegan yang salah, ya begitulah kenyataannya di masa lampau…

Apakah itu??

Yaitu perang yang terakhir, di akhir film. Sebelum perang itu, Ratu sudah diperingatkan untuk jangan melakukan perang ditempat terbuka. Lebih baik bertahan di dalam benteng, karena secara perhitungan, Kompeni Inggris tidak akan mampu menjebol benteng hingga 3 bulan lamanya.

Nah, apa maksud dari kesalahan dalam pandangan Gla??

Ini maaf banget ya Sob… Bukan maksud Gla membedakan gender. Tapi ya begitulah wanita. Kodrat bahwa perasaan (emosi) wanita lebih sensitif dibanding pria, benar-benar dimunculkan dalam film ini. Tekad berani mati ditunjukkan hanya dengan semangat yang berapi-api, tanpa strategi perang yang benar-benar matang. Ratu hanya mengedepankan bentrokan fisik tanpa banyak strategi yang dapat mengalahkan musuh dalam jumlah lebih banyak.

Tapi entah ini Sob… Entah gambaran di filmnya yang kurang bagus, atau memang sejarahnya seperti itu. Ini Gla hanya bicara secara selera ya Sob… Jadi bukan perkara benar atau salah. Ini hanya soal selera.

Gla membandingkan dengan film kolosal Korea, ‘The Admiral: Roaring Current’, dan film kolosal China, ‘Red Clift’… Film Manikarnika ini sangat jauh dari kata bagus. Tidak ada sedikitpun strateginya dalam berperang.

Apa lagi jika dibanging dengan film kolosal Korea yang lain, yaitu ‘The Great Battle’… Makin jauh… The Great Battle menggambarkan bahwa bertahan di dalam benteng yang kuat, plus strategi yang mumpuni, justru membawa kemenangan.

Namun sekali lagi… Ini antara sejarah atau penggambarannya di dalam film?? Jika memang sejarahnya demikian, ya, mau apa lagi??

Kemudian, terlepas dari semua kekurangan tersebut di atas, Manikarnika punya bayak pisan adegan yang menghibur. Misale saja penataan slow motion ketika adegan berburu harimau, juga pada penataan kolosalnya. Perpaduan antara adegan perang dengan slow motionnya sudah cukup dramatis. Mendekati gaya film-film Hollywood.

Belum lagi adegan ketika Manu menyeret komandan pasukan Kompeni dengan kudanya… Juga adegan ketika Manu belumuran darah dengan menghunus pedang. Semuanya begitu dramatis dan terasa nyata.

Jika pun musik dan lagu pada film ini terasa hambar, Gla tidak bisa banyak berkomentar. Soale Gla tidak terlalu suka lagu-lagu India, jadi tidak bisa menilainya.

Dan pamungkasnya, film ini membawa pesan emansipasi dan jiwa patriot yang begitu dalam… (Glamovie).

Tinggalkan Balasan